Welcome Myspace Comments
By : Marsigit

Reviewed by : Syahlan Romadon (09301241041)
http://syahland.blogspot.com

Keputusan Sisdiknas No 20 tahun 2003 menegaskan bahwa Sistem Pendidikan Indonesia harus mengembangkan kecerdasan dan keterampilan individu, mempromosikan perilaku yang baik, patriotisme, dan tanggung jawab sosial, harus mendorong sikap positif dari kemandirian dan pembangunan. Meningkatkan kualitas pengajaran adalah salah satu tugas yang paling penting dalam meningkatkan standar pendidikan di Indonesia. Itu dimulai pada bulan Juni 2006, berdasarkan Keputusan Menteri No 22, 23,24 tahun 2006, Pemerintah Indonesia telah menerapkan kurikulum baru untuk pendidikan dasar dan menengah, yang disebut KTSP "Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan".
Berpikir matematis memiliki keanekaragaman pengetahuan yang sederhana atau keterampilan. Ini adalah bukti bahwa berpikir matematis melayani tujuan penting dalam memberikan kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri, dan ini tidak terbatas pada masalah khusus.
Pengajaran harus fokus pada pemikiran matematika termasuk metode matematika. Pertanyaan berhubunganan dengan pemikiran matematika dan metode harus diajukan didasarkan pada perspektif jenis pertanyaan apa.
Katagiri, S. (2004) menunjukkan bahwa pertanyaan harus dibuat sehingga proses pemecahan masalah matematika memunculkan pemikiran dan metode. Dia mendaftar pertanyaan analisis yang dirancang untuk menumbuhkan pemikiran matematika yaitu mengenai masalah pembentukan dan pemahaman,membangun sebuah perspektif, pelaksana solusi, organisasi logis.
Dalam pembelajaran, para peneliti telah berusaha untuk mengungkap gambaran di mana guru diupayakan untuk mempromosikan metode matematika dalam mempelajari total luas sebuah silinder lingkaran tegak dan bola serta volume kerucut lingkaran tegak.
Hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa metode matematika siswa dapat ditelusuri melalui skema kegiatan belajar mengajar sebagai berikut:
1.Masalah Pembentukan dan Pemahaman yang muncul ketika siswa: mengamati model tertentu dari silinder lingkaran tegak, mengamati model tertentu dari bola, dan mengamati model tertentu kerucut lingkaran tegak. Mengidentifikasi komponen-komponen dari silinder lingkaran tegak, bola, dan kerucut. Mendefinisikan konsep silinder lingkaran tegak, bola, dan kerucut. Memiliki pertanyaan dan pemberitahuan dari guru untuk mencari konsep-konsep
2. Membangun Perspektif suatu yang muncul ketika siswa : Menggunakan model beton untuk mencari total luas silinder lingkaran tegak, area bola dan volume kerucut lingkaran tegak. Belajar bahwa tinggi silinder lingkaran adalah sama dengan lebar persegi panjang tersebut; dan keliling lingkaran adalah sama dengan panjang persegi panjang. Memahami prosedur cara mencari volume kerucut lingkaran tegak.
3. Solusi Pelaksana yang muncul ketika siswa: mencoba untuk mencari tahu area lateral silinder lingkaran tegak,mencoba untuk mengetahui total luas silinder lingkaran tegak,mencoba untuk mengetahui daerah lingkup,mengumpulkan data dari pengukuran volume kerucut dibandingkan dengan volume silinder
Oleh Marsigit

Reviewed by: Syahlan Romadon (09301241041)
http://syahland.blogspot.com

Mathematic can form concrete object materially , picture or cube model , the various number of symbol , square pool , pyramid in Egypt , etc . Mathematic can form pure mathematic formality , axiomatic mathematic , formal mathematic , or mathematic can be defined deductively . Normative, we can not learn mathematic materially and formality but we learn with the value of mathematics . Metaphysically , mathematic appearance many kind of level dimension of meaning can be reach meta –cognitive .
Developed mathematics in school have aspects understanding about the truth of mathematic , the truth of school mathematic , the truth of mathematic education , the truth of mathematic value , the truth of mathematic learning ,the truth of mathematic teaching learning , the truth of school mathematic cultivate, . Commonly , what are talking about , two question are what the object and what the method ? Mathematic , mathematic education , mathematic learning , and so on have the meaning that contain in their object . So every activity always thinking the question about what they think . What they think is called object . The last question is called method .
There are Many Kind of View about Mathematic and How to Learn . Because of the mathematic context and the mathematic method formally , because the truth , make mathematic become abstract , general , objective , rational , and theoretic . That is the truth of science and mathematic .According Shirley (1986) with this approach absolute community build formal mathematic considered neutral and the independent value . Social Constructivism consider that mathematic is human’s work during fixed time . So mathematic is considered as science related with culture and their creator value in their culture’s context .The history of Mathematic is the history of formed , not only connected with expressing the truth , but also the emerge problem , definition , statement , proof , and theory that communicate and re-formulated by an individual or group .
In the effort , student must get or learn mathematic objective knowledge , student need development the procedure for example : follow the step made by the other people , make step informally , determine the first step , use the step that development ,have definition so the people can be emerged , compare the step , and adapted the step . Interaction social between student and teacher can give criticism activity for revised concept , so that student get revised concept so that subjective knowledge of mathematic is equal to objective knowledge .
By: Marsigit

Review by: Syahlan Romadon (09301241041)
http://syahland.blogspot.com

Pada matematika pendidikan di indonesia memiliki indikasi bahwa prestasi anak dalam mata pelajaran matematika dan sains adalah rendah, ditunjukkan dengan hasil ujian nasional tahun demi tahun semakin rendah. Penguasaan anak-anak pada konsep matematika dan keterampilan proses matematika masih rendah. Hal ini mungkin karena:
1. Kekurangan kegiatan laboratorium.
2. Kurangnya guru yang memiliki ilmu menguasai keterampilan pendekatan proses.
3. Isi di Matematika dan ilmu kurikulum terlalu banyak.
4. Ketentuan waktu terlalu banyak mengkonsumsi administrasi untuk
guru.
5. Kurangnya peralatan laboratorium dan sumber daya laboratorium manusia.
Penelitian juga menunjukkan ketidakcocokan bahwa di antara tujuan pendidikan, kurikulum, dan sistem evaluasi
yang dapat diidentifikasi dengan mengikuti:
1. Ujian Nasional hanya menilai anak-anak kemampuan kognitif saja.
2. Pelaksanaan sistem yang terlambat dan mempertimbangkan perbedaan individu tidak tepat;.
3. Sistem masuk universitas pemeriksaan dianggap memicu dasar
dan guru sekolah menengah menerapkan berorientasi tujuan daripada proses yang berorientasi dalam mengajar matematika dan sains.
4. Guru banyak yang masih mengalami kesulitan dalam menjabarkan silabus.
5. Jumlah topik matematika dianggap sulit bagi guru untuk mengajar.
6. Siswa beranggapan matematika sulit dipahami.
7. Guru menganggap bahwa mereka masih membutuhkan panduan untuk melakukan proses pengajaran dengan menggunakan ilmu pengetahuan pendekatan keterampilan daripada proses.
Enam prinsip sebagai panduan pengembangan kurikulum:
1. Kesempatan untuk belajar matematika untuk semua.
2. Kurikulum bukanlah sekedar kumpulan materi tetapi
harus mencerminkan kegiatan matematika koheren.
3. Pembelajaran matematika perlu teori yang komprehensif kegiatan siswa, kesiapan mereka untuk belajar dan peran guru
memfasilitasi mereka belajar.
4. Kesempatan kepada pelajar untuk mengembangkan konsep-konsep matematika.
5. Perlunya mengembangkan penilaian tertanam untuk mengajar proses belajar.
6. Menggunakan berbagai jenis mengajar sumber belajar.
Kurikulum menguraikan tujuan belajar mengajar matematika adalah sebagai berikut:
1. Untuk memahami konsep matematika.
2. Untuk mengembangkan keterampilan berpikir untuk mempelajari pola dan karakteristik matematika.
3. Untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang mencakup masalah menguraikan model matematika.
4. Untuk berkomunikasi dengan ide-ide matematika dengan menggunakan simbol, tabel, diagram dan media lainnya.
5. Untuk mengembangkan apresiasi dari penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari, keingintahuan, pertimbangan, dan kemauan
untuk belajar matematika serta tangguh dan percaya diri.

Aku Cinta Indonesia...

Thank You Myspace Comments